JUMLAH kunjungan pasien rawat jalan di RSUD H.Andi Sulthan daeng Radja Bulukumba terus meningkat. Peningkatan terlihat dari jumlah kunjungan sebanyak 31.095 (2015) menjadi 41.796 (2016). Akibatnya, sangat sering terjadi antrian yang panjang di area rawat jalan, penumpukan pengunjung, serta lamanya waktu tunggu untuk mendapatkan pelayanan baik di klinik tujuan maupun pada saat pengambilan obat.

Situasi ini sangat menyulitkan bagi pasien-pasien berkebutuhan khusus dan beresiko tinggi seperti pasien lanjut usia di atas 70 tahun, wanita hamil dengan usia kandungan di atas 32 minggu, pasien penyandang cacat/disabilitas, dan bayi berusia kurang dari dua bulan yang rewel. Kelompok ini beresiko mengalami perburukan kondisi kesehatan selama waktu tunggu tersebut sehingga perlu perhatian khusus.

Menindaklanjuti permasalahan ini, RSUD H.Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba melaksanakan inovasi Sistem Pelayanan Jalur Khusus dan Pemantauan Pasien Rawat Jalan Bagi Kalangan Berkebutuhan Khusus dan Beresiko Tinggi disingkat "SIPAKATAU SIPAKALEBBI". Inovasi ini bertujuan untuk memberi kemudahan bagi pasien dari kelompok beresiko tersebut mulai dari awal masuk ke tempat pendaftaran sampai selesainya pelayanan di rawat jalan. Inovasi ini berlandaskan pada kearifan lokal masyarakat Bugis Sulawesi Selatan untuk memberi akses layanan kesehatan yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat.

Dalam pelaksanaan inovasi SIPAKATAU SIPAKALEBBI, pasien diskrining oleh tenaga ahli (case manager) serta dibantu sepenuhnya dalam proses administrasi (jalur khusus) sambil diberikan ruang tunggu yang nyaman dengan fasilitas lengkap. Pasien juga diberi kode khusus untuk memudahkan pengidentifikasian oleh petugas serta memperlancar proses pelayanan di unit-unit tujuan sampai selesai.

Inovasi ini telah memberi layanan kepada 5.605 pasien dalam kurun waktu Februari 2017-Januari 2018. Waktu pelayanan di area rawat jalan sampai pasien pulang menjadi lebih singkat dan mudah, antrian panjang di loket pendaftaran menjadi berkurang, petugas di area pendaftaran lebih peduli terhadap pasien, serta tersedianya alat bantu mobilisasi bagi pasien berkebutuhan khusus dan beresiko tinggi. Inovasi ini telah mewujudkan pelayanan publik yang inklusif dan adil bagi seluruh masyarakat.