ANGKA Kematian Ibu di Kabupaten Bantaeng meningkat pada tahun 2008-2010. Faktor penyebabnya karena terlambat diketahui, terlambat didiagnosa, terlambat ditindaki dan terlambat dirujuk. Untuk Kabupaten Bantaeng faktor utama yang sangat berpengaruh adalah terlambat ditindaki. Hal ini disebabkan karena sulitnya akses masyarakat ke pusat pelayanan kesehatan karena topografi daerah yang bergunung - gunung. Waktu tempuh kurang lebih 1 jam ke pusat layanan kesehatan menyebabkan ibu hamil lebih memilih melahirkan di rumah daripada di pusat pelayanan kesehatan. Resiko ini tentu tidak hanya terjadi pada ibu tetapi keselamatan bayi juga terancam.

Berdasarkan pada permasalahan ini Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng melalui Brigade Siaga Bencana melaksanakan inovasi melalui sistem jemput bola 24 jam. Dimana laporan yang diterima melalui call center 119 segera mendapat respon dari petugas BSB yang terdiri dari 1 dokter umum dan 2 perawat yang langsung mendatangi pasien dengan ambulance yang sudah dilengkapi fasilitas medis. Petugas BSB melakukan pemeriksaan sebagai tindakan awal terhadap pasien sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), sebelum melakukan pemilahan tindakan berdasarkan kategori ringan, sedang dan berat ( triase ).

Hingga tahun 2017 Kabupaten Bantaeng memiliki 5 posko BSB dengan 20 dokter umum, 49 perawat yang terlatih dan terampil  dan 12 unit ambulance yang lengkap dengan fasilitas medis. Hal ini menggambarkan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas sudah dapat dijangkau oleh masyarakat. Khusus untuk kasus kebidanan atau ibu melahirkan dalam kurun waktu 2015-2017 dari 1517 ibu melahirkan yang dilayani terdapat 54 orang ibu melahirkan yang diselesaikan di atas ambulance mobile. Dengan kata lain ibu yang mengalami hambatan dalam persalinannya dapat dibantu oleh Tim BSB untuk melahirkan di atas mobil.

Dengan adanya pelayanan tanggap darurat dari BSB yang merupakan kegiatan inovasi unggulan di Kabupaten Bantaeng telah terjadi perubahan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari perubahan indikator status kesehatan  sebelum dan sesudah beroperasinya BSB. Kondisi ini tentu pula berdampak pada status pencapaian SDGs.