Perkembangan populasi ternak  sapi masih dirasakan belum maksimal. Hal ini disebabkan  oleh kurangnya pemahaman peternak tentang tata laksana pemeliharaan ternak sapi yang baik. Peternak pada umumnya beternak  secara tradisional/dilepas dan masih menjadikan usaha peternakan sapi sebagai usaha sambilan. Sapi betina induk hanya mampu beranak antara 2-3 ekor dalam waktu 5 tahun, ini sangatlah rendah apabila ditinjau dari segi budidaya, karena sapi bisa menghasilkan anak sekali setahun.

Tekhnologi Inseminasi Buatan, salah satu tekhnologi budidaya yang bisa memacu peningkatan populasi dan kualitas mutu genetik ternak sapi. Keturunan sapi yang dihasilkan dari tekhnologi Inseminasi Buatan merupakan  persilangan dari sapi pejantan unggul. Dari segi ekonomis,  anak sapi yang dihasilkan dari perkawinan alam umur 1 tahun hanya mampu dijual 4-5 juta/ekor. Sedangkan anak sapi yang dihasilkan melalui tekhnologi Inseminasi Buatan umur satu tahun bisa mencapai har- ga 9-10 juta/ekor. Faktor lain yang menyebabkan terhambatnya peningkatan populasi adalah adanya penyakit gangguan reproduksi sapi.

Pendekatan strategi yang dilakukan adalah PELAN ITU BAGUS “Pelayanan Berkelanjutan Inseminasi Buatan dan Gangguan Reproduksi Sapi”. Keunikan dan keterbaruan dari inovasi ini adalah  pelayanan  21 hari ber- turut-turut dalam satu kelompok ternak disesuaikan dengan 21 hari siklus birahi sapi, sebagai syarat utama dalam keberhasilan pelaksanaan  Inseminasi Buatan. Pelayanan berkelanjutan dilakukan oleh petugas teknis peternakan yang tergabung dalam satu tim. Personil tim terdiri dari Dokter Hewan, Asisten Teknis Reproduksi, Pemeriksa Kebuntingan, Inseminator, dan Petugas Peternakan Kesehatan Hewan Kecamatan. Tim Pelayanan bertugas memeriksa kebuntingan, pengelompokan sapi induk berdasar kepada induk bunting, tidak bunting, beranak dibawah dua bulan, dan sapi induk yang terindikasi mengalami gangguan reproduksi. Dalam kondisi normal dengan pelayanan 21 hari secara terus menerus, maka sapi induk yang tidak bunting secara keseluruhan dapat terinseminasi sesuai dengan 21 hari siklus birahi sapi.

Dampak  dengan adanya inovasi pelayanan berkelanjutan ini adalah perubahan perilaku peternak dalam mengelola  usaha peternakan sapi. Peternak yang dulunya memelihara sapi dengan cara tradisional sekarang su- dah beralih ke pemeliharaan semi intensif dan intensif. Kondisi seperti ini terbukti dengan  peningkatan jumlah akseptor Inseminasi Buatan 49 % pertahun, jumlah anak sapi hasil inseminasi 24 % pertahun, dan peningkatan populasi ternak sapi 7-8 % pertahun, serta yang tak kalah pentingnya adalah terpancarnya senyum kebahagian dari peternak disebabkan  karena penigkatan pendapatan dan kesejahteraan.

Pemerintah Kabupaten Pinrang sangat mengapresiasi ide inovasi ini dan selanjutnya dapat terlaksana den- gan baik dan berkelanjutan dan telah direplikasi diseluruh Kecamatan yang ada di Kabupaten Pinrang.