Teseng Sapita

Beternak sapi merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat di Sulawesi Selatan. Pola beternak masyarakat umumnya masih merupakan peternak tradisional yang berdampak pada rendahnya produktivitas ternak. Dan beternak masih merupakan pekerjaan sampingan. Hal ini disebabkan karena tingkat kepemilikan ternak sedikit, hanya berkisar 1 – 4 ekor. Aspek permodalan menjadi salah satu penyebab rendahnya jumlah kepemilikan ternak.

Untuk mendapatkan modal ternak, masyarakat Sulawesi Selatan mengenal istilah “Teseng”, yaitu Bahasa Bugis yang artinya “bagi hasil”. Pola ini melibatkan 2 pihak yaitu, pemberi modal dan peternak. Pihak pemberi modal merupakan pihak yang memiliki ternak sapi, akan tetapi tidak memiliki waktu yang cukup untuk memelihara, sehingga pemilik modal (Ma’teseng) memberikan sapi tersebut kepada peternak (Pa’teseng) untuk dipelihara sesuai dengan perjanjian dan kesepakatan yang terbangun sebelumnya. Kesepakatan yang terbangun tidak secara tertulis antara Pa’teseng dan Ma’teseng, akan tetapi hanya mengedepankan konsep kepercayaan atau kekeluargaan sehingga dalam pembagian hasilnya terkadang kurang menguntungkan bagi Pa’teseng.

Menyikapi permasalahan tersebut di atas UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Pakan Ternak, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan melihat potensi pengelolaan aset ternak sapi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang dioperasionalisasikan oleh UPT dapat dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan dengan mengadopsi kearifan lokal tersebut. Maka lahirlah inovasi Teseng Sapita’ Berdayakan Peternak di Sulawesi selatan.

Teseng Sapita’ merupakan perjanjian kerjasama pengelolaan ternak sapi pemerintah yang dikelola UPT sebagai Pihak Pertama dengan kelompok/korporasi/koperasi sebagai Pihak Kedua “Pendamping Peternak”. Proporsi bagi hasil antara Pihak Pertama, Kedua, dan Peternak tertuang dalam PKS (Perjanjian Kerjasama).

Teseng Sapita’ telah diadopsi/diimplementasikan sebanyak 48 peternak di 3 kabupan, dengan jumlah ternak sebanyak 65 ekor. Telah berdampak positif terhadap tambahan penghasilan peternak dan manajemen pembibitan dengan pola tradisional menjadi lebih baik dengan penerapan teknologi reproduksi. Terjadi efisiensi dan efektifitas reproduksi ternak sapi. Selain itu Peternak sapi yang telah di fasilitasi mendapatkan pengetahuan tentang beternak yang baik dan sistem bagi hasil yang menguntungkan. Juga mendorong integrasi hasil samping pertanian- peternakan mendukung Green Policy.