INOVASI BANTU ANAK MERAIH HARAPAN

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Bab VI pasal 50 ayat 1 yang menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab meningkatkan dan mengembangkan upaya kesehatan, selanjutnya program gizi dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dan wajib dilaksanakan kepada masyarakat. Secara khusus kabupaten/kota dan instansi kesehatan sangat berperan menyediakan pelayanan gizi.

Pelayanan gizi yang dilaksanakan oleh puskesmas memiliki banyak keterbatasan terutama terkait jam kerja. Banyak program gizi yang seharusnya dilaksanakan setiap tahun dari level Kabupaten/Kota hingga Provinsi. Namun program tersebut terkendala koordinasi Lintas Sektor /Lintar Program yang kurang serta advokasi yang tidak maksimal sehingga jangkauan terhadap permasalahan gizi juga tidak memadai.

Sebelum inovasi, pelayanan lambat yang mengakibatkan status gizi anak yang tadinya kurang menjadi buruk. Setelah inovasi, pelayanan berubah menjadi cepat dan bahkan dapat mengurangi status anak dengan gizi kurang bahkan merubah status gizi buruk pada anak dalam jangka waktu 3 bulan.

Inovasi Banua Merah dapat membantu masyarakat terutama anak balita mengakses layanan gizi sebelum terindikasi mengalami gizi kurang atau bahkan gizi buruk. Dengan beroperasinya Banua Merah terjadi penurunan kasus gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Wara. Jika pada tahun 2016 jumlah kasus gizi kurang masih tercatat 321 kasus. Pada Tahun 2017 kasus gizi kurang telah menurun menjadi 280 dan di Tahun 2018 menjadi semakin berkurang yaitu 210 kasus.

Demikian pula kasus gizi buruk mengalami penurunan, jika pada tahun 2016 masih terjadi 11 kasus, di tahun 2017 ada 1 kasus. Berturut-turut di tahun 2018 dan 2019 menjadi 0 kasus. Terjadi penghematan dalam penggunaan anggaran, pelayanan kepada anak menjadi lebih baik, angka kesakitan dan kematian berkurang sehingga tingkat harapan hidup menjadi lebih tinggi, kecerdasan meningkat yang akan melahirkan generasi penerus yang berkualitas.