Bank Mini Sekolah (BMS) di SMK Neg 1 Pinrang adalah salah satu jenis usaha dari unit prosuksi sekolah yang bergerak dalam layanan unit simpan pinjam. Unit yang didirikan sebagai salah satu bentuk bantuan sekolah dalam membantu guru dan pegawai dalam bentuk pemberian kredit serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyimpan uang mereka sekaligus bentuk pembelajaran tentang perbankan.

BMS didirikan tahun 2001 dengan modal awal Rp 4.000.000,- dengan 2 jenis pelayanan, yakni pelayanan simpanan dan pelayanan pinjaman. Salah satu yang menjadi daya tarik dalam pelayanan simpanan adalah tingkat suku bunga tabungan lebih tinggi dibanding bank pemerintah dan swasta serta tidak dikenakan biaya administrasi bank setiap bulannya. Untuk pelayanan pinjaman dapat diangsur maksimal 20 kali dan apabila pinjaman diatas 2.500.000,- maka harus ada jaminan berupa BPKB dan sertifikat tanah.

Dengan adanya BMS ini diharapkan dapat memberika manfaat seperti memudahkan guru, pegawai, siswa dan masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhannya; efisiensi waktu karena tidak perlu izin meninggalkan sekolah apabila ingin menabung atau meminjam; membantu menggalakkan program pemerintah "ayo menabung" serta memperkenalkan pelayanan publik di bidang perbankan terhadap guru, pegawai dan siswa.

Dalam prosesnya, ada dua tahapan dalam pendirian dan pengembangan MBS yaitu tahap pertama adalah tahap perencanaan yang terdiri dari pembicaraan mengenai pendirian MBS dengan kepala sekolah, pembuatan mekanisme kerja, pengumpulan modal awal, dan sosialisasi kepada warga sekolah dan masyarakat sekitarnya. Dan tahap kedua adalah tahap implementasi yang terdiri dari pembentukan pengurus dan pelaksanaan kegiatan/usaha pelayanan.

Kendala yang dihadapi adalah kurangnya modal usaha karena lebih banyak yang meminjam daripada menabung.

Pengelolaannya, BMS dijalankan oleh orang-orang yang memiliki keahlian atau kompetensi di bidangnya seperti memiliki pengetahuan tentang dunia usaha, perbankan, bisnis dan manajemen. memiliki kemampuan manajemen, memiliki jiwa kewirausahaan, jujur dan bertanggungjawab, serta mampu berkomunikasi dengan baik.

Untuk proses monitoring dan evaluasi dilakukan 2 kali dalam setahun oleh auditor internal sekolah dan setiap akhir tahun, pengelola membuat laporan pertanggungjawaban yang dilaporkan kepada kepala sekolah.

Salah satu indikator keberhasilan dari MBS ini adalah pengembangan sekolah/staf dan keuntungan yang dihasilkan dari usaha BMS ini yang dapat dimanfaatkan sebagai tambahan biaya operasional sekolah. Dengan keberhasilan BMS ini diharapkan dapat menjadikan pembelajaran untuk sekolah lain agar dapat mereplikasi pembangunan BMS supaya pelayanan publik dibidang perbankan dapat diterapkan di sekolah 

Sumber ; Buku TOP 99 2014