World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 585.000 ibu meninggal per tahun saat hamil, proses persalinan dan aborsi tidak aman akibat kehamilan yang tidak diinginkan. Sementara itu, SDGs menargetkan Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 70/100.000 Kelahiran Hidup (KH) dan Angka Kematian Neonatus (AKN) 17/1000 KH. Berdasarkan hasil survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup sedangkan Angka Kematian Neonatus (AKN) 19/1000 KH.

Untuk mencapai target SDGs 2030, diperlukan percepatan penurunan AKI/AKB khususnya pelayanan kesehatan ibu dan anak bagi masyarakat terpencil terutama di wilayah kepulauan. Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa 48,2% persalinan di Sulawesi Selatan masih dilakukan di rumah. Hal ini dapat mengakibatkan keterlambatan penanganan apabila terjadi komplikasi obstetrik maupun neonatal.

Akses terhadap fasilitas kesehatan memang masih menjadi persoalan di sebagian wilayah Indonesia, khususnya di daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan. Pun demikian di Kabupaten Sinjai, kondisi geografis yang tidak semuanya datar dengan akses jalan yang baik menyebabkan beberapa kasus keterlambatan ibu bersalin datang ke pelayanan kesehatan.

Kecamatan pulau Sembilan merupakan Kecamatan di Kabupaten Sinjai yang terpisah dari daratan Sinjai dan berupa Kepulauan. Kecamatan ini terdiri dari sembilan pulau dengan luas wilayah yaitu 755 km2 dan terletak sekitar 12mil dari ibukota kabupaten. Jumlah penduduk kecamatan pulau sembilan 7963 jiwa dengan kepadatan 1055 jiwa/km2.

untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan, Puskesmas Poned dan RS Poned terdekat harus ditempuh dengan transportasi laut dengan lama tempuh rata-rata 2-3 jam. Menyadari kondisi yang menyulitkan ibu hamil tersebut pemerintah bekerjsama dengan masyarakat Kecamatan Pulau Sembilan berinisiatif menyediakan Rumah Tunggu Kelahiran (RKT) yang pada awalnya dilakukan dengan menyewa rumah penduduk di sekitar dermaga penyebrangan di Kelurahan Lappa.

RKT Bahari mendekatkan ibu hamil beresiko ke RS Ponek. Langkah membangun RKT pada dasarya merujuk terobosan kebijakan Kementerian Kesehatn yang disediakan untuk ibu bersalian, terutama ibu hamil dengan resiko tinggi dalam upaya percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian bayi (AKB).

RKT adalah suatu tempat atau ruangan yang berada di dekat Fasyankes (Poskesdes, Puskesmas, Rumah Sakit) yang dapat digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi ibu hamil dan pendampingnya (suami/kader/keluarga) selama beberapa hari sebelum saat persalinan tiba dan beberapa hari setelah bersalin.

Sasaran RKT diutamakan ibu hamil yang berasal dari daerah dengan akses sulit yang memiliki faktor resiko tinggi. Pelayanan yang diberikan melalui Antenatal care (ANC) dan harus dirujuk ke rumah sakit umum, menyediakan ruangan/tempat tidur dan kamar mandi untuk ibu hamil dan keluarga pemdamping. Apabila terjadi tanda-tanda bahaya, maka kader akan menghubungi Bidan desa yang bertugas di lokasi RKT.

Dengan RKT berhasil mendekatkan ibu hamil beresiko/komplikasi ke tempat rujukan, terbentuknya call centre rujukan antara puskesmas Balangnipa, Puskesmas pulau sembilan, RTK dan RSUD Sinjai. Selain itu, angka kematian ibu akibat terlambat dirujuk menjadi menurun di Pulau Sembilan.

Dinas kesehatan terus melakukan monitoring dan evaluasi pemanfaatan RKT dengan menggunakan indikator kriteria keberhasilan rumah tunggu yaitu ibu hamil beresiko yang datang beberapa hari sebelum bersalin dan beberapa hari setelah melahirkan. Pendampingan keluarga, jumlah komplikasi obstetic dan neonatal yang tertangani, jumlah kematian ibu dan jumlah kematian neonatal.

Sumber : Buku TOP 40 Inovasi Pelayanan Publik 2017