JARINGAN penyalahgunaan dan peredaran narkoba dunia telah berimbas ke Sulawesi Selatan. Tanpa mengenal usia dan tempat. Usia anak, remaja dan orang tua tidak saja menjadi pemakai tetapi juga menjadi pengedar. Peredaran  narkoba  terjadi di kampus, lingkungan sekolah, tempat kost dan tempat-tempat hiburan.

Permasalahan narkoba  merupakan kejahatan yang luar biasa. Jaringan kerja yang sangat rapi dan terorganisir. Oleh karena itu penanganannya juga luar biasa dan memerlukan  kerjasama para pihak. Pada tahun 2014 korban penyalahguna narkoba sebanyak 65 ribu jiwa dan tahun 2016 meningkat signifikan 140 ribu jiwa. Korban penyalahgunaan Narkoba bukan hanya pada orang dewasa, mahasiswa tetapi juga pelajar SMU sampai pelajar setingkat SD. Kaum remaja menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap penyalahgunaan Narkoba, karena selain memiliki sifat dinamis, energik dan sifatnya selalu ingin mencoba.

Tempat rehabilitasi yang ada di BNN Baddoka hanya mampu menampung 300 orang sedangkan jumlah korban yang membutuhkan rehabilitasi sebanyak 128 ribu (2016). Selebihnya BNN mendistribusi ke panti rehabilitasi milik swasta.  

Berdasarkan permasalahan tersebut maka RSUD Sayang Rakyat membuka layanan rehabilitasi korban penyalahguna narkoba melalui inovasi Ayo! Gerakan Rehabilitasi Anti Bubuk di Rumah Sayang Anak Bangsa (GO GRAB Mayang Asa). Gerakan ini merupakan respon atas tingginya korban dan terbatasnya tempat-tempat rehabilitasi penyalahgunaan narkoba di Sulawesi Selatan. Menggunakan Metode terpadu yakni rehabilitasi medis, Theraupetik Community dan bantuan Psykolog serta Psikiater kepada korban untuk menghilangkan pengaruh NAPZA pada jaringan tubuh korban.

Melalui inovasi GO GRAB Mayang Asa jumlah pasien yang telah dinyatakan sembuh 19 orang pada tahun 2016 dan 37 orang pada tahun 2017. GO GRAB Mayang Asa memiliki kemampuan untuk memulihkan kesehatan fisik dan mental korban serta dapat memutus ketergantungan korban pada NAPZA. Ayo! Melahirkan manusia berkualitas melalui Gerakan Rehabilitasi Anti Bubuk di Mayang Asa.