TERJADINYA ketimpangan rasio rombongan belajar di lima kecamatan yaitu Rongkong, Seko, Rampi, Malangke dan Baebunta. Jumlah PNS 138 sedangkan jumlah rombongan belajar 258. Artinya Luwu Utara berkekurangan guru PNS sebanyak 120 orang. Banyak anak sekolah tidak melanjutkan sekolah dan lebih memilih membantu orang tua di kebun atau sawah daripada ke sekolah karena tidak ada guru yang mengajar. Akibatnya sebanyak 8 anak putus sekolah di tahun 2015, dan tahun 2016 bertambah menjadi 12 anak. Padahal sarjana pendidikan di Luwu Utara yang menganggur sebanyak 312 orang.

Sarjana mengajar merupakan solusi atas masalah tersebut. Inovasi sarjana mengajar merupakan keberlanjutan dari program Distribusi Guru Proporsional yang dilanjutkan setiap tahun. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan guru, merekomendasikan untuk merekrut 50 guru (tahun 2017) yang meliputi Guru Kelas/SD (34 Orang), IPA/SMP (8 Orang), Matematika/SMP (6 Orang), Bhs. Indonesia/SMP (1 Orang), Bhs. Inggris/SMP (1 Orang).  Anggaran yang digunakan untuk membayar jasa guru bersumber dari APBD sebanyak Rp.750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)

Tahun 2018 merekrut lagi sebanyak 62 yang meliputi Guru Kelas/SD (41 Orang), Penjas/SD (1 Orang), IPA/SMP (3 Orang), Matematika/SMP (6 Orang), Bhs. Indonesia/SMP (6 Orang), Bhs. Inggris/SMP (4 Orang, Penjas/SMP (1 Orang). Dengan anggaran sebesar Rp.930.000.000,- (sembilan ratus tiga puluh juta rupiah).

Saat ini sarjana mengajar bertugas di lima kecamatan masing-masing Rongkong sebanyak 24 sekolah, Seko 58 sekolah, Rampi 20 sekolah, Malangke 8 sekolah dan Baebunta 2 sekolah. Proses pembelajaran di 112 sekolah kembali aktif dan jumlah anak putus sekolah menurun 4 orang, serta kebutuhan hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan mampu diatasi dengan sarjana mengajar.

Inovasi sarjana mengajar merupakan terobosan yang mudah direplikasi utamanya pada wilayah terpencil. Mendaya gunakan sumber daya manusia lokal untuk peningkatan kualitas pembangunan manusia. Mewujudkan pendidikan berkualitas yang merupakan dukungan atas pencapaian tujuan SDGs. Inovasi sarjana mengajar telah disampaikan bupati pada berbagai seminar dan workshop di tingkat provinsi dan nasional.