Rutinitas sebuah rumah sakit tidak bisa terlepas dari limbah sisa makanan. Porsi makanan pasien yang telah ditakar dan disesuaikan oleh instalasi gizi, acap meninggalkan sisa yang tidak sedikit. Sisa makanan ini terproduksi setiap hari. Belum lagi sisa makanan pengunjung dan petugas, serta sisa pengolahan bahan makanan di instalasi gizi, membuat jumlahnya makin besar. Kondisi ini juga terjadi di Rumah Sakit Arifin Nu’mang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan. Per hari, limbah sisa makanan di rumah sakit ini rata-rata mencapai 12 kg. Tak pelak, limbah sisa makanan menumpuk di instalasi gizi. Akibatnya, terjadi pencemaran udara berupa bau yang menganggu kenyamanan pasien, petugas dan pengunjung, serta mengundang serangga, lalat dan tikus yang bisa menimbulkan penyakit. Gundah dengan hal tesebut, penulis yang juga Kepala Instalasi Gizi RS Arifin Nu’mang tergerak membuat inovasi memanfaatkan limbah. Muncullah ide mengolahnya menjadi pupuk cair dan padat untuk tumbuhan dengan inovasi "Mbah Sijaka" Mengolah limbah sisa makanan jadi berkah.
          Inovasi “Mbah Sijaka” sejalan dengan kategori perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Pengolahan limbah sisa makanan berkontribusi terhadap akselerasi SDGs 12.3 yaitu mengurang separuh limbah makanan per kapita global. Inovasi “Mbah Sijaka” mengakselerasi SDGs 12.5 yaitu pada tahun 2030 secara substansial mengurangi timbunan sampah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang dan penggunaan kembali. Inovasi semacam ini belum pernah dilakukan di rumah sakit di Sulawesi Selatan, sehingga memenuhi unsur kebaruan inovasi. “Mbah Sijaka” juga memberi perbedaan sigifikan, di mana sebelum adanya inovasi, limbah sisa makanan di instalasi gizi menumpuk, kotor, bau, dan menjadi media bagi lalat, tikus. Hadirnya “Mbah Sijaka” mengeliminir masalah tersebut Inovasi pengolahan limbah sisa makananan menjadi pupuk organik sangat mudah diaplikasikan, ditransfer dan diadaptasikan di lingkungan rumah sakit maupun di tempat umum yang memperoduksi makanan siap saji, karena bahan dan cara pembuatannya mudah dilakukan dan hanya menggunakan biaya yang sangat minim.