Si Balung Lestari di SulSel dilatarbelakangi kekhawatiran punahnya genetik asli Sapi Bali Indonesia (plasma nutfah/sumber daya genetik) hasil domestikasi banteng liar. SulSel merupakan daerah pengembangan terbesar di Indonesia (85% dari 1.369.890 ekor sapi). Dengan keunggulan : adaptasi lingkungan panas, memanfaatkan pakan berkualitas rendah, fertilitas tinggi, tahan penyakit, persentase daging lebih tinggi dan lemak lebih rendah dibanding sapi eksotis. Saat ini sulit menemukan bibit maupun indukan memenuhi SNI, akibat inbreeding (kawin sedarah) dan seleksi negatif ( penjualan t ernak bagus keluar daerah) sehingga menghasilkan t ernak kerdil, dicirikan dengan bobot lahir kurang dari 13 kg, berdampak pada : Rendahnya minat peternak memelihara sapi Bali, lebih memilih sapi eksotik/luar negeri (Limousin, Simmental, Brahman) yang performanya lebih besar; karena sapi Bali kecil/kerdil bernilai jual yang rendah; Bila sperma sapi eksotik tersebut di introduksikan ke sapi Bali, terjadi kesulitan melahirkandan bisa menyebabkan kematian induk sapi maupun anak; kerugian bagi peternak;
Sapi Bali asli akan punah karena persilangan dengan sapi jenis lain; Karena itu, inovasi bertujuan menghasilkan sapi Bali yang kompetitif terhadap sapi eksotik dengan mengembalikan genetik nenek moyangnya (Banteng) ; yang berat dewasanya mencapai 800kg/bobot l ahir 16-17kg (jantan), dan betina sampai 670kg/bobot l ahir 14-15kg. Untuk menghasilkan Si Balung, sapi Bali SulSel dikawinkan dengan sapi t urunan banteng ( Banteng cross) dari BBIB Singosari Jawa Timur. Sapi B anteng cross tersebut hasil perkawinan banteng Taman Nasional Baluran dengan sapi Bali Jawa Timur. Sperma/semen Banteng cross ditampung/dibekukan untuk diintroduksikan ke sapi Bali SulSel dengan metode inseminasi (kawin suntik), lahirlah Si Balung.
Si Balung dilaksanakan di UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Pakan Ternak, Dinas Peternakan
dan Kesehatan Hewan Provinsi SulSel sejak 2017. Bobot lahir Si Balung mencapai 17 kg (sapi
Bali biasa 12 -13 kg). Januari 2019, Si Balung diimplementasikan ke Kelompok Binaan Rumah
Sapi D’Reppa di Kabupaten Gowa, SulSel, dan lahir dengan bobot mencapai 19 kg, mendorong
minat kelompok melestarikan sapi Bali.